Sabtu, 15 September 2012

Giliran Arab Saudi Tertarik Senjata Buatan Indonesia



JAKARTA - Kualitas persenjataan buatan dalam negeri mulai menarik bagi negara-negara lain. Irak sudah hampir pasti memborong senjata dan peralatan militer buatan Indonesia.

Juru bicara
Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal Hartind Asrin, menyatakan, tak hanya Irak, beberapa negara lainnya seperti Iran, Uganda, Kongo dan Arab Saudi juga tertarik untuk membeli senjata buatan Indonesia.

"Mereka tertarik dengan senjata kita karena kualitasnya sudah internasional," ujar Hartind kepada VIVAnews, Senin 3 September 2012.

Sama dengan Irak, Arab Saudi awalnya akan membeli senjata Senapan Serbu 2 atau SS2 yang diproduksi oleh PT Pindad. Utusan dari negara calon pembeli sudah mengunjungi langsung PT Pindad.

"Irak bisa jadi tahun ini realisasinya. Kalau Arab Saudi mudah-mudahan tahun depan. Saat ini sudah ada pembicaraan-pembicaraan," katanya.

Kualitas senjata buatan Indonesia, lanjut Hartind, juga dibuktikan dengan prestasi Tentara Nasional Indonesia dalam beberapa lomba menembak internasional.

Seperti diantaranya dalam Lomba Tembak Internasional Australian Army Skill at Arms Meeting (AASAM) 2012. Di ajang ini, TNI Angkatan Darat meraih juara umum dengan mengalahkan negara-negara besar seperti, tuan rumah Australia, Inggris, Amerika Serikat, Kanada, Perancis, Selandia Baru.

Ajang AASAM 2012 juga diikuti oleh negara-negara ASEAN seperti, Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Brunei Darussalam, dan Timor-Leste. Jepang menjadi peserta baru pada AASAM kali ini. Lebih dari 300 petembak ikut serta mewakili militer masing-masing negara.

"Kita sudah mengalahkan anggota-anggota NATO dalam lomba-lomba tembak. Karena kualitas senjata kita juga yang menentukan," katanya.

Oleh karena itu, dia menyambut baik ketertarikan negara-negara tetangga untuk membeli senjata produksi dalam negeri.



Sumber : Vivanews

Sekelompok Tentara AS Berencana Bunuh Obama


SAVANNAH - Sekelompok tentara Amerika Serikat (AS) membentuk sebuah milisi anarkis dan menghabiskan dana 87.000 dollar (Rp 829 juta) untuk persenjataan dalam rangka menggulingkan pemerintah dan
akhirnya membunuh Presiden Barack Obama. Demikian menurut sebuah dakwaan pengadilan terhadap para tentara itu seperti dilaporkan Daily Telegraph, Selasa (28/8/2012).

Mereka dituduh telah membentuk sebuah kelompok yang disebut FEAR, singkatan dari Forever Enduring Always Ready, dan membeli sebidang tanah di Negara Bagian Washington. Dari tanah itulah nantinya mereka akan melancarkan serangan.

Mereka dikatakan sudah berencana untuk meledakkan sebuah bendungan dan meracuni ladang apel di Negara Bagian Washington, mengebom taman di Savannah, Georgia, menyerang kendaraan-kendaraan milik para karyawan Departemen Keamanan Dalam Negeri, dan mengambil alih sebuah pusat kontrol amunisi di markas tentara yang luas di Fort Stewart, Georgia.

Para jaksa mengatakan, tujuan jangka panjang mereka adalah revolusi, menjatuhkan pemerintahan AS dan membunuh Presiden Barack Obama. Namun tidak diketahui kapan dugaan persekongkolan itu akan terjadi.

Rincian tentang milisi tersebut terungkap dalam proses pengadilan sipil di Georgia di mana tiga tentara telah dituduh melakukan pembunuhan. Prajurit Isaac Aguigui, yang diidentifikasi sebagai pendiri dan pemimpin FEAR, Sersan Anthony Peden, dan Prajurit Christopher Salmon, didakwa atas kematian seorang mantan tentara, Michael Roark (19 tahun), dan pacarnya Tiffany York (17 tahun). Kedua korban diduga dibunuh di hutan di Georgia Desember lalu, demi menjaga rahasia keberadaan milisi tersebut.

Terdakwa keempat dalam kasus itu, Prajurit Michael Burnett (26 tahun), mengakui dua tuduhan pembunuhan pada hari Senin. Dia bersikap kooperatif dengan para jaksa dalam sebuah kesepakatan yang akan memungkinkan dia terhindar dari hukuman mati.

Burnett mengatakan kepada pengadilan bahwa Prajurit Aguigui memperkenalkannya pada "naskah", yang merupakan "sebuah buku tentang patriot sejati", dan bahwa milisi itu bertujuan "untuk membawa pemerintahan kembali ke rakyat".

Para jaksa mengatakan, para anggota milisi itu mengenakan tato anarkis dan tidak diketahui berapa banyak jumlah anggotanya. Dakwaan pengadilan menyebutkan, Aguigui mendanai kelompok itu dengan menggunakan dana sebesar 500.000 dollar yang merupakan uang hasil klaim asuransi yang ia terima setelah kematian istrinya yang sedang hamil tahun lalu. Dia dikatakan telah merekrut para anggota di kalangan tentara AS.

Jaksa Isabel Pauley mengatakan, milisi itu "berpengetahuan, punya sarana dan motif untuk melaksanakan rencana mereka".

Selasa, 11 September 2012

Kapal AS Siap Perang di Teluk Persia, Iran Waspada


Komandan Angkatan Laut Iran Laksamana Habibullah Sayyari mengatakan bahwa pasukan angkatan laut Iran mengontrol penuh informasi intelijen pergerakan kapal perang AS di Teluk Persia.

"Kam

i memantau semua pergerakan kapal perang AS dan mengontrol informasi kegiatan mereka," kata Sayyari seperti dilansir IRIB.

"Kehadiran kapal perang AS di perairan bebas Teluk Persia dan Laut Oman sesuai dengan hukum internasional namun kami tidak mengizinkan AS memasuki perairan teritorial kami," tegasnya.

Menyinggung fenomena bajak laut Somalia di Laut Merah, Sayyari mengatakan bahwa negara-negara Barat berusaha menjustifikasi kehadiran mereka dengan menciptakan ketidakamanan di wilayah tersebut.

"Fenomena perompakan laut itu menguntungkan negara-negara AS dan Barat karena perusahaan asuransi yang berbasis di AS dan Inggris melipatgandakan dana asurani di kawasan rawan itu," tambah Sayyari.

Meski patroli kapal-kapal internasional, para perompak Somalia hingga kini telah membajak puluhan kapal dalam beberapa tahun terakhir dan telah mengeruk puluhan juta dolar uang tebusan.

Namun armada Angkatan Laut Iran berhasil menggagalkan serangan baik terhadap kapal tanker Iran dan asing selama misinya di perairan internasional.

Sejalan dengan upaya internasional melawan pembajakan, Angkatan Laut Iran telah melakukan patroli terhadap bajak laut yang memenuhi Teluk Aden sejak November 2008 dalam rangka mengawal kapal-kapal pedagang dan tanker minyak milik atau disewa oleh Iran atau negara lain.



Sumber: IRIB/IRNA

Senin, 10 September 2012

Pemerintah Alokasikan Sekitar $185 Juta Untuk Mengupgrade PT. PAL

JAKARTA - Kementerian Pertahanan (Kemhan) akan memulai pembuatan alat utama sistem persenjataan (alutsista) dalam negeri, yakni menyangkut pembuatan kapal selam. Dalam upaya
tersebut, Kemhan akan menyerahkan kepada PT PAL.

Pembuatan itu dapat dilakukan Kemhan setelah melakukan pembelian tiga unit kapal selam dari Korea Selatan melalui mekanisme transfer of technology (TOT). Karena itu, PT PAL sebagai pelaksana pembuatan nantinya akan segera diberdayakan.

Menteri Pertahanan (Menhan) Purnomo Yusgiantoro yang juga merupakan Ketua Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP), mengatakan, pembangunan kapal selam dalam negeri akan segera dimulai. "Karena itu PT PAL akan segera di upgrading," kata dia saat melakukan pemaparan dalam rapat KKIP ke-7, di Aula Bhineka Tunggal Ika Kemhan, Jakarta, Rabu (29/8).

Kapal selam berteknologi diesel elektrik dengan jenis DSME 209 itu, lanjut Menhan, setelah dimulai dengan pembuatan di Korea yang akan selesai pada 20 Desember 2011 lalu, maka proses lanjutannya akan dilakukan di Indonesia. Sebagai persiapan, pembuatan akan dilakukan oleh PT PAL.

Menurut Purnomo, pihaknya telah meminta PT PAL untuk segera mempersiapkan segala sumber daya demi melancarkan pembuatan. "Tentu saja PT PAL butuh peningkatan atau up grading," kata dia.

Dalam dokumen Cetak Biru Riset dan Pengembangan Produk Alat Peralatan Pertahanan dan Keamanan (Alparhankam), disebutkan bahwa anggaran pembangunan dan upgrading PT PAL mencapai 150 juta dolar AS. Yakni dengan rincian sebesar 77 juta dolar untuk fasilitas dan 73 juta untuk peralatan.

Selain dana tersebut, anggaran lain yang disiapkan adalah jasa konsultan asing dan dalam negeri sebanyak 42 orang dengan besaran 35 juta dolar AS. Dalam dokumen itu juga, kebutuhan kapal selam pemerintah adalah sebanyak 10 sampai 12 buah.

Kapal-kapal tersebut nanti digunakan untuk menjaga pertahanan laut NKRI di sejumlah corong strategis, seperti Selat Malaka bagian utara, Selat Sunda, Laut Natuna, Laut Sulawesi, dan Selat Bali. Purnomo mengatakan, dikarenakan Indonesia saat ini hanya memiliki dua unit kapal selam yang telah berusia lanjut. "Makanya kita butuh kapal selam tambahan untuk mengamankan perairan," kata dia.


Sumber : Republika

Peluncuran Perdana KRI Klewang 625 Berhasil Dengan Mulus


KRI Klewang 625 berhasil diluncurkan dari galangan kapal PT. Lundin Industry Invest. Kementerian Pertahanan memesan 4 kapal trimaran dengan harga per unit Rp 114 miliar

Kapal Cepat

Rudal (KCR) Trimaran / KRI Klewang 625 yang merupakan kapal siluman pertama didunia, Jum'at (31/8) secara resmi diluncurkan.

Kapal yang memiliki panjang 63 meter buatan Banyuwangi tersebut diklaim sebagai kapal perang tercanggih didunia karena sulit terdeteksi oleh radar.

Wakil Asisten Logistik Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Pertama, Sayid Anwar, mengatakan peluncuran KRI Klewang merupakan prestasi yang membanggakan bagi Indonesia karena merupakan kapal jenis combatan yang sulit dideteksi oleh radar karena dibuat dari bahan komposit yang ringan sehingga memiliki kecepatan sampai 35 knot.

"KRI Klewang ini sangat ringan sehingga memiliki kecepatan yang cocok untuk misi rahasia dan tempur," ujarnya.

KCR Trimaran merupakan kapal perang tercanggih yang dikembangkan sejak tahun 2009 oleh TNI AL dan PT. Lundin, akan dilengkapi rudal jarak tembak 120 km membuat kapal ini menjadi kapal perang kebanggaan Indonesia.

"Kapal ini akan dilengkapi 4 rudal jenis C 705 produksi cina dan perlengkapan canggih lainnya," tambah Laksamana Pertama Sayid Anwar.

KRI Klewang tersebut akan diawaki oleh 27 ABK tersebut rencanya akan memperkuat Armatim TNI AL di Surabaya.


Sumber : RRI

Rahasia Usamah Terbunuh Terkuak, AS Gusar